GURU PROFESIONAL

PENDAHULUAN

 Salah satu sebab terpenting mutu pendidikan nasional yang rendah saat ini adalah karena pendidikan, terutama pendidikan dasar, selama tiga dekade terakhir tidak disajikan oleh guru yang profesional. Guru direkrut bukan dari kelompok masyarakat yang terbaik; mereka yang paling berbakat hampir-hampir tidak bersedia menjadikan guru sebagai profesi mereka. Dalam kata lain, pendidikan telah dilakukan oleh para amatir. UU No. 14/2005 tentang Guru dan Dosen dimaksudkan untuk secara struktural memperbaiki kondisi keterpurukan guru.

 Sebuah profesi seharusnya adalah sebuah panggilan jiwa yang diwujudkan dalam karya pelayanan oleh sekelompok orang yang memiliki kualifikasi yang tinggi untuk melaksanakan kerja yang khusus, yang diperoleh melalui pendidikan dan pelatihan yang tuntas serta pengalaman yang penuh tanggungjawab, dan karena kemuliaan profesi ini mereka yang tidak memenuhi syarat tidak dapat diterima sebagai rekan seprofesi. Menjadi anggota sebuah profesi dengan demikian adalah sebuah kontrak untuk melayani masyarakat, melampaui semua bentuk kewajiban kepada klien atau majikan, sebagai imbalan atas keistimewaaan perlakuan masyarakat kepada profesi tersebut.

 Sebuah tantangan professional guru yang telah terjadi cukup lama adalah saat para guru membiarkan perampasan kompetensi profesionalnya dirampas begitu saja oleh sebuah komputer bodoh melalui Ujian Nasional untuk menentukan kelulusan para siswa yang bertahun-tahun dididiknya. Ujian Nasional merupakan salah satu perangkat kebijakan paling menonjol dalam proses penggerusan kewibawaan guru, dan penghancuran profesionalisme guru. Membiarkan hal ini terus terjadi merupakan pengingkaran atas tanggungjawab professional guru.

 Jika pemerintah menganggap bahwa para guru tidak kompeten atau tidak dipercaya untuk melakukan evaluasi belajar peserta didik dan menentukan kelulusan mereka, bagaimana mereka bisa dibiarkan bekerja sebagai guru? Peserta didik sebagai konsumen jasa pendidikan (yang dalam banyak kasus tidak gratis, bahkan semakin mahal) yang dihasilkan oleh guru, jelas amat dirugikan.

Ketinggian mutu layanan tertentu yang bermartabat dan dihormati disebabkan terutama karena layanan tersebut diberikan oleh para professional. Siapakah para professional ini ? Mereka adalah sekelompok orang yang terorganisasi yang mempunyai tujuan sama, bekerja dengan suatu kode etik yang ditaati secara konsisten dan senantiasa berusaha mencapai hasil karya lebih baik, lebih sempurna, serta selalu berusaha meningkatkan keahlian profesionalnya agar dapat memberikan kontribusi yang berarti bagi ilmu pengetahuan yang melandasi profesinya.

 Layanan profesional yang sanggup diberikan oleh beragam masyarakat profesi akan ikut menentukan kualitas hidup masyarakat tersebut.. Pelanggaran etika profesi akan secara lambat tapi pasti mendegradasikan citra dan kepercayaan masyarakat atas sebuah profesi, dan akhirnya merugikan mereka yang sungguh-sungguh menjunjung tinggi kehormatan profesi tersebut.

 Dari sudut pandang apapun, guru adalah salah satu profesi yang terpenting dalam sebuah peradaban. Jauh lebih penting dari pada profesi insinyur misalnya. Pendidikan sebagai upaya sadar yang terencana untuk mengembangkan seluruh ragam potensi manusia sebagai peserta didik sudah jelas menempatkan guru sebagai profesi yang paling menantang. Oleh karena itu, membangun sebuah masyarakat atau organisasi guru yang membangun profesionalitas guru merupakan bagian strategi yang paling penting untuk memperbaiki mutu guru, dan akhirnya menentukan mutu pendidikan nasional kita.

  Sikap dan Perilaku Guru yang Profesional

 Pemerintah sering melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kualitas guru, antara lain melalui seminar, pelatihan, dan loka karya, bahkam melalui pendidikan formal bahkan dengan menyekolahkan guru pada tingkat yang lebih tinggi. Kendatipun dalam pelakansaannya masih jauh dari harapan, dan banyak penyimpangan, namun paling tidak telah menghasilkan suatu kondisi yang yang menunjukkan bahwa sebagian guru memiliki ijazah perguruan tinggi.

Latar belakang pendidikan ini mestinya berkorelasi positif dengan kualitas pendidikan, bersamaan dengan faktor lain yang mempengaruhi. Walaupun dalam kenyataannya banyak guru yang melakukan kesalahan-kesalahan. Kesalahan-kesalahan yang seringkali tidak disadari oleh guru dalam pembelajaran ada tujuh kesalahan. Kesalahan-kesalahan itu antara lain:

1. Mengambil jalan pintas dalam pembelajaran,

2. Menunggu peserta didik berperilaku negatif,

3. Menggunakan destruktif discipline,

4. Mengabaikan kebutuhan-kebutuhan khusus (perbedaan individu) peserta didik,

5. Merasa diri paling pandai di kelasnya,

6. Tidak adil (diskriminatif),

8. Memaksakan hak peserta didik.

 Untuk mengatasi kesalahan-kesalahan tersebut maka seorang guru yang profesional harus memiliki empat kompetensi. Kompetensi tersebut tertuang dalam Undang-Undang Dosen dan Guru, yakni:

  1. Kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik,
  2. Kompetensi kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang mantap, berakhlak          mulia, arif, dan berwibawa serta menjadi teladan peserta didik,
  3. Kompetensi profesional adalah kamampuan penguasaan materi pelajaran luas mendalam,

4. Kompetensi sosial adalah kemampuan guru untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan efisien dengan peserta didik, sesama guru, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar. 

    SERTIFIKASI GURU

 Sebagaimana sertifikasi insinyur akan menentukan kualitas jasa profesi insinyur, langkah terpenting dalam membangun masyarakat guru yang profesional adalah melalui sertifikasi guru. Sertifikasi profesi merupakan sebuah prosedur penilaan baku atas kelayakan seseorang untuk memberikan layanan profesional. Sertifikasi dilakukan oleh sebuah lembaga yang independen dan memiliki kredibilitas yang tinggi.

Selanjutnya, kompensasi dan penghargaan yang pantas diberikan bagi seorang profesional akan ditentukan oleh mutu dan kompleksitas layanan profesional yang sanggup diberikannya. Masyarakat profesi perlu mempertahankan kredibilitas proses sertifikasi ini agar kepercayaan masyarakat pada profesi tersebut dapat dijaga, bahkan ditingkatkan sehingga semakin bermartabat sebagaimana terlihat dalam peningkatan kualitas hidup masyarakat yang mengambil manfaat atas layanan profesi tersebut.

 Untuk membangun masyarakat guru yang profesional paling tidak diperlukan dua pendekatan pokok. Pendekatan pertama bersifat kultural di mana setiap guru – dengan kesanggupan sendiri dan diorganisasikan oleh organisasi guru- harus memulai prakarsa untuk sanggup mengemban tanggungjawab profesional sebagai berikut :

  1. Kemampuan menghayati dan memenuhi kepentingan umum
  2. Kemampuan diri sendiri menghasilkan layanan pendidikan yang terbaik.
  3. Kemampuan bekerja dalam sebuah kelompok atau tim
  4. Kemampuan spesifik keguruan, yang dilandasi kemampuan intelektual dan keterampilan teknis, berupa kompetensi dan kesiapan melaksanakan pekerjaan keguruan secara kreatif dan beretika.

 STANDAR PROFESI GURU

 Hal penting lainnya adalah standar profesi guru (SPG). SPG seharusnya dirumuskan untuk mendefinisikan ruang lingkup pekerjaan guru sebagai sebuah profesi, dan sebuah platform untuk melakukan refleksi atas kinerja profesi guru sebagai sebuah karir. Berbeda dengan profesi lainnya, profesi guru adalah profesi yang kompleks. Kompleksitas ini ditimbulkan oleh fitrah pendidikan sebagai wahana pengantar anak didik ke masa depan.

Karena masa depan dicirikan oleh ketidakpastian dan ketidakjelasan, maka hanya warga yang kreatif yang akan sanggup beradaptasi secara produktif dan bertanggungjawab di dalam lingkungan yang penuh ketidakpastian dan ketidakjelasan ini. Oleh karena itu, SPG harus dinyatakan secara generik, dan ditujukan untuk membangun kompetensi kreatif guru sebagai model manusia yang kreatif.

 Rumusan SPG Pemerintah negara bagian Queensland dapat dijadikan sebagai rujukan penyusunan SPG ini. Tuntutan rumusan kompetensi generik ini juga akan mencerminkan peluang interpretasi yang disebabkan oleh keragaman latar belakang budaya, lokalitas, jenjang dan jalur pendidikan, tugas tambahan yang dikerjakan guru, serta setting sosial di mana guru bekerja. Rumusan generik ini juga memberi ruang pertama bagi kreatifitas guru. SPG Queensland misalnya mencakup tugas-tugas guru sebagai berikut :

 Mengembangkan pengalaman belajar yang inovatif dan luwes bagi individu peserta didik, maupun bagi kelompok

  • Memberikan tantangan intelektual yang memadai bagi peserta didik
  • Berpartisipasi dalam upaya pemberantasan buta huruf, buta angka, dan pengembangan bahasa
  • Mengembangkan penguasaan dan pemutakhiran bahan-bahan pembelajaran
  • Berpartisipasi dalam pengembangan para remaja dan pemuda
  • Mengembangkan suasana pembelajaran yang tidak diskriminatif, dan mendorong pemahaman lintas budaya
  • Mengembangkan pembelajaran yang menjangkau lingkungan di luar sekolah
  • Melakukan evaluasi belajar murid yang mendorong pengembangan seluruh ranah belajar dan minat murid
  • Mengembangkan pemanfaatan teknologi informasi dalam proses pembelajaran
  • Memberi kontribusi bagi pengembangan profesi guru

 Kemampuan yang terkait dengan strategi manajemen pembelajaran, yang meliputi: (1) memiliki kemampuan untuk menghadapi dan menangani siswa yang tidak memiliki perhatian, suka menyela, mengalihkan pembicaraan, dan mampu memberikan transisi substansi bahan ajar dalam proses pembelajaran; (2) mampu bertanya atau memberikan tugas yang memerlukan tingkatan berpikir yang berbeda untuk semua siswa.

Memiliki kemampuan yang terkait dengan pemberian umpan balik (feedback) dan penguatan (reinforcement), yang terdiri dari: (1) mampu memberikan umpan balik yang positif terhadap respon siswa; (2) mampu memberikan respon yang bersifat membantu terhadap siswa yang lamban belajar; (3) mampu memberikan tindak lanjut terhadap jawaban siswa yang kurang memuaskan; (4) Mampu memberikan bantuan profesional kepada siswa jika diperlukan.

 Pendekatan kedua bersifat struktural sebagaimana terwujud melalui UU No. 14/2005 tentang Guru dan Dosen. Dalam pendekatan struktural ini, Pemerintah harus membangun sebuah politik pendidikan yang jelas, dan diterjemahkan dalam program pembangunan pendidikan yang memberdayakan guru sebagai sebuah profesi yang bermartabat dan dihormati. Rekrutmen guru harus dilakukan melalui mekanisme yang ketat dan transparan. Mereka yang layak sebagaimana dibuktikan melalui proses sertifikasi diberi kompensasi dan penghargaan yang pantas dan menarik. Mereka yang tidak layak harus dikeluarkan dari masyarakat guru.

Ciri-ciri yang harus dimiliki guru profesional:

  • Memilki wawasan yang luas.
  • Mengusai disiplin ilmu yang ia ajarkan.
  • Karismatik.
  • Bersahaja.
  • Dapat menguasai kelas.
  • Sabar.
  • Disiplin.
  • Memiliki moral yang baik.
  • Bisa jadi teladan.

 Citra dan kelembagaan pendidikan guru, dan penelitian pendidikan perlu didukung dengan dana yang memadai. Pengembangan citra guru yang baik masih akan menjadi tantangan beberapa tahun mendatang. Diharapkan, suatu saat mahasiswa lembaga pendidikan calon guru direkrut dan dipilih dari mereka yang paling berminat dan berbakat.

  PENUTUP

 A. Kesimpulan

 Dalam rangka membangun modal sosial yang kuat serta memenangkan persaingan global, Indonesia memerlukan politik pendidikan yang kuat untuk membangun pendidikan yang bermutu secara berkelanjutan. Disamping dukungan anggaran pendidikan yang lebih proporsional, salah satu dimensi politik pendidikan yang diperlukan adalah kebijakan yang mendorong profesionalitas guru melalui desentralisasi pendidikan substantif hingga ke satuan pendidikan (akreditasi), sertifikasi guru dan kelembagaan pendidikan guru yang menarik bagi pemuda yang paling berbakat.

 Standar Profesi Guru perlu segera dirumuskan untuk menjadi pendoman bagi ikatan profesi guru, dan penyedia jasa pendidikan guru. SPG perlu dinyatakan secara generik untuk merumuskan ruang lingkup tugas/pekerjaan guru, dan sebagai platform refleksi kinerja profesional guru sebagai karir. Tugas guru yang terpenting sebagai pemandu ke masa depan bagi anak didik adalah mengembangkan pengalaman belajar yang inovatif dan luwes, dan memberi tantangan intelektual yang memadai bagi para peserta didik.

 UU no. 14/2005 telah memberi payung struktural bagi pengembangan profesional guru. Namun demikian, secara kultural masyarakat guru juga perlu menunjukkan bahwa mereka memiliki komitmen untuk mampu mengemban tanggungjawab profesional guru. Untuk itu, organisasi profesi guru perlu berbenah diri untuk sungguh-sungguh meningkatkan profesionalitas guru melalui program sertifikasi guru, dan penegakan etika profesi guru. Salah satu tantangan kultural guru adalah mengambil alih kembali tanggungjawab profesionalnya untuk menentukan kelulusan anak didiknya, bukan menyerahkan kelulusan mereka kepada sebuah komputer bodoh melalui Ujian Nasional.

B. Saran

 Para pendidik, calon pendidik, dan pihak-pihak yang terkait hendaknya mulai memahami, menerapkan, dan mengembangkan sikap-sikap serta perilaku dalam dunia pendidikan melalui teladan baik dalam pikiran, ucapan, dan tindakan.

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s